0

Enkulturasi Penelitian Pada Guru dan Pelajar Indonesia

agungsuprapto_researchSeperti yang kita ketahui, dunia pendidikan di negara kita ini secara general belum dapat kita bilang berhasil atau sekedar memberi tanda perbaikan yang berarti.  Progresivisme pendidikan di artikan oleh pemerintah hanya dengan perubahan kurikulum. Berganti rezim berganti pula kurikulum. Para Founding Father mungkin terlupa bagaimana mengantisipasi efek negatif dari tiap kurikulum ke  kurikulum selanjutnya dan efek-efek lainnya. Pemerintah sepertinya lebih mementingkah ke “latah” annya mengadopsi perkembangan pendidikan tanpa berfikir panjang. heem..memilukan..Namun apa yang bisa kita gerakkan kepada para generasi bangsa ini agar dapat mempersiapkan diri di era global? Salah satu usulan penulis adalah para pelajar guru dan mahasiswa digiring untuk menjadi seorang peneliti.

Untuk saat ini, bagi para mahasiswa khususnya, adalah pilihan yang tidak menarik untuk menjadi seorang peneliti. Mereka memilih untuk mengunggulkan hedonisme, pragmatisme dan konsumerisme, yang menjadikan mereka tumpul dan tidak produktif di bidang akademis yang notabene merupakan dunianya. Mereka lebih suka memenuhi Mall, Bioskop, Perempatan Jalan, ataupun sekedar rajin menulis status di media sosial dibanding mengikuti kajian ilmiah, seminar ilmiah, mengunjungi perpustakaan, laboratorium dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Para guru kita belum begitu paham dan menyadari tentang pentingnya penelitian.  Sebagian kecil dari mereka hanya paham tentang bagaimana menaikkan pangkat/golongan, dan mendapatkan sertifikasi. Sebagian besar para guru kita  disibukkan dengan membuat administrasi mengajar sebagai konsekwensi pergantian kurikulum dan mengajar saja, sehingga praktis yang dilakukan para guru kita di  kelas hanyalah bagaimana menyampaikan materi dan mengisi administrasi.  Para guru kita lupa untuk MENULIS yang merupakan kegiatan pokok selain mengajar. Inilah kenyataan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan kita. Para guru menjadi korban dari sistem pendidikan kita ini dan terjebak di rutinitas yang kurang produktif, sehingga berefek ke siswanya yang makin miskin ilmu dan inspirasi.

Di Amerika, budaya meneliti, tidak hanya oleh mahasiswa saja, melainkan para guru dan pelajar. Para guru berlomba-lomba untuk menulis dan men submit penelitiannya ke jurnal-jurnal ataupun di tuangkan di buku. Pekerjaan yang mereka pahami ada tiga, yaitu: mengajarkan atau menyampaikan ilmu ke siswanya, menuliskannya dan mempublikasikannya. Sehingga menjadi wajar jika pendididikan di luar lebih maju,  sebab para guru berpartisipasi aktif mendesain model pendididikan yang terbaik yang dituangkan dengan penelitian (PTK) dan penelitian jenis lainnya. Hal ini pantas di contoh bagi para guru di Indonesia untuk melakukan enkulturasi penelitian.

Indonesia mempunyai Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) sebagai wadah untuk meningkatkan kuantitas serta kualitas penelitian bagi para pelajar. namun kenyataanya kejuaraan ini belum cukup mampu menjadi cambuk kepada para pelajar di Indonesia.

Benar bahwa Enkulturasi penelitian pada guru dan pelajar ini tidak bisa berjalan tanpa dukungan dari pemerintah atau dinas pendidikan, sebab penelitian itu harus mempunyai wadah dan fasilitas yang memadai, termasuk rewards bagi penelitian yang baik dan berkualitas sekaligus dana yang tidak sedikit.

Untuk itu, seyogyanya jika Indonesia ingin mempunyai Pendidikan yang World Class School, Enkulturasi penelitian harus dimulai sejak dini bahkan dari SLTP da SLTA kalaupun belum bisa dimulai dari pre school. Peran para Guru yang notebene sebagai suri tauladan, dibangkitkan lagi identitas itu. Salah satunya dengan melakukan penelitian dan membudayakannya.

Agung Suprapto

lecturer, blogger, trainer, network engineer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *